dytaherfiani4@blogger.co.id

 Kehidupan Kelurga ku

Rabu, 24 April 1996 pukul 11.45 WIB, Aku terlahir di dunia ini. Aku terlahir seperti bayi bayi pada umumnya, dan memilki postur tubuh seperti ini : mata sipit, hidung tidak terlalu mancung atau bisa disebut pesek, bibir yang standar, alis yang kurang jelas bentuknya, rambut ikal dan berwarna agak pirang dan warna kulit yang tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam. Mamah dan Papah memberikan ku sebuah nama yaitu Dyta Herfiani, begitu banyak panggilan yang ada di diri ku seperti pegi, Encek, Idung, dan amoy. Kalangan Keluarga yang sering memanggil seperti itu, tapi wajar saja, keluarga ku di isi oleh orang orang yang humoris.

Aku mempunyai seorang kaka yang bernama Dylan Jajuli, kami beda 3 tahun. Begitu banyak perbedaan antara aku dan kaka ku, tapi banyak yang bilang bahwa kami sekilas mirip wajahnya hanya saja perbedaannya hidung kaka ku agak sedikit mancung dan matanya tidak terlalu sipit. Kami sangat takut kepada mamah, karena kami selalu buat ulah sewaktu kecil. Seperti berebutan gunting, main berantem beranteman di kasur sampai berantakan, main hujan hujanan dan banyak lagi yang membuat mamah marah. Kami tidak pernah berantem dengan kata kata yang kasar, karena setiap ucapan yang tak pantas untuk kami ucapkan mamah selalu mengancam kami untuk memakan cabe karena telah berkata yang tidak baik, suatu ketika aku berantem dengan kaka ku kami saling berteriak berbicara yang tidak baik dan tiba tiba mamah datang membawa cabe sebagai bentuk hukuman untuk kami yang sudah berkata tidak baik, dari situ kami takut untuk berkata-kata yang tidak baik. Tidak terasa waktu pun cepat berlalu, aku mempunyai adik perempuan bernama Syfa Apriyani ia lahir pada tanggal 18 April 2006 pukul 15.00 pada saat itu aku duduk di Sekolah Dasar kelas 5 dan kaka ku duduk di SMP kelas VIII, kami sangat senang atas kehadirannya dan kami sangat antusias membantu mamah untuk menyiapkan makanannya, memandikannya, memakaikan bajunya dan lainnya karena kami telah lama mengharapkan seorang adik ditengah tengah keluarga kami.

Tak terasa 1 tahun pun berlalu, mamah pun sering sakit sakitan aku pun tak mengerti apa penyebabnya hingga suatu ketika mamah pingsan aku baru saja pulang sekolah, aku pun langsung mendekatinya dan memberikan minyak kayu putih agar mamah tersadar, aku pegang tangannya yang dingin dan kakinya pun dingin, YaAllah aku sangat takut disaat itu. Aku takut terjadi apa apa terhadap mamah namun 5 menit kemudian mamah sadarkan diri dan aku bersyukur. Setelah kejadian itu mamah pernah mengalami bedtres, tidak bisa apa apa hanya dikasur saja karena kaki dan perutnya sakit setiap datang bulan atau meanstruasi, setelah meanstruasinya hilang mamah pun kembali sehat seperti tak pernah sakit apa apa, mamah sering seperti itu setiap bulannya hingga akhirnya mamah periksa ke dokter dan ternyata mamah mempunyai penyakit Kista, pada saat itu lah mamah sering ke Rumah Sakit untuk pengecekan selanjutnya. Pada saat aku Ujian Nasional, mamah pun di operasi di Rs. Salak Bogor, aku pun kesana menunggunya dengan Alm.Nenek, kaka ku, dan saudara saudara ku. 4 jam berlalu mamah tak kunjung keluar dari tempat operasi tersebut, kami pun panik dengan keadaanya, kenapa lewat dari jam yang ditentukan? seharusnya hanya 2 jam saja tapi ini sudah lewat 2 jam, pikiran ku makin tak karuan setelah banyak pasien yang keluar dari ruang operasi tapi mamah pun tak kunjung keluar.

Keluarlah seorang Dokter dari ruang operasi tersebut dan bertanya "ada keluarga Herlina?" kami pun kaget mendengarnya, Alm.Nenek ku pun langsung menghampirinya "iya, saya dok", dokter pun langsung mengajak Alm.Nenek ku keluar agak jauh dari aku dan kaka ku karna ada hal yang ingin disampaikan mengenai kondisi mamah ku. Aku pun takut terjadi apa apa terhadap mamah, kaki terasa tak tampak lagi, dan otak tak dapat mencerna semua ucapan, yang ada di pikiran ku hanyalah mamah. 5 menit setelah Alm.Nenek ku berbicara kepada Dokter itu, nenek menghampiri kami dan memeluk kami sambil berkata "mamah baik baik aja ko" kami pun tak mengerti, namun tak lama kemudian keluarlah mamah dalam kondisi yang tak berdaya dengan diselimuti oleh kain putih, aku pun langsung menghampirinya dan mamah pun tersenyum kepada ku, aku pun langsung memegang tangannya dan tersenyum kembali mengikuti suster yang mengantar mamah ke kamar inap mamah. Itu adalah hal yang terberat dalam hidup ku, aku sangat takut kehilangannya hingga saat ini aku pun tak ingin jauh jauh darinya, banyak yang bilang bahwa tingkah ku seperti anak terahkir yang pada umumnya memilki sifat manja tapi aku mempunyai adik yang sangat tangguh, aku terlalu sayang kepada mamah hingga jika di dekatnya aku masih merasa seperti putri kecilnya seperti umur 5 tahun hanya saja postur tubuhnya yang berbeda.

Aku takut jika waktu membawa orang tua ku pergi, aku takut ketika mereka pergi kami belum bisa membahagiakannya, aku takut tak bisa bercanda dengannya dan aku selalu takut, hingga setiap malam aku tidur bersama mamah jika papah tidak dirumah karna papah ku kerja dengan kurun waktu yang lama sesuai kontraknya, dan aku yang menemani mamah, setiap malam aku melihatnya jika kedua tangannya terletak diperutnya, aku pun langsung memegang tanganya dan menciumnya hingga pagi hari karena aku terlalu takut kehilangnya.

Jagalah semua orang yang kamu sayangi sebelum waktu mengajarkan mu sebuah perpisahan yang menyakitkan, dan lakukanlah yang terbaik untuk mereka sebelum waktu yang membuat mu menangis akan penyesalan yang tak berarti. Do good and good come to you :)
0 Responses

Posting Komentar